Beru Tarigan

Thursday, September 14, 2006

Menjadi polisi Wanita

Suatu hari ada seorang teman kuliah yang berujar kepadaku, "Wah enak ya mbak, jadi Polwan?"
Ketika mendengar omongannya itu, aku tidak tahu mesti menanggapi. Kalimatnya yang singkat itu terasa begitu sarat dengan arti.Bisa positif, bisa juga negatif. Maka dengan hati-hati aku menjawab, "Maksudnya enak apa bang?". Teman kuliahku itu menyeringgai dan menjawab, "Ya enaklah mbak, jadi Polwan" Ia tidak menjelaskan dengan detail, mengapa ia mengatakan menjadi Polwan itu enak.
Selama 17 tahun bekerja sebagai seorang anggota Polisi wanita, aku memang hampir tidak pernah memikirkan ungkapan itu. Hari-hariku kujalani dengan biasa, tanpa pernah berpikir apakah enak atau tidak menjadi Polisi Wanita.

Dulu, memang pamor Polisi Wanita masih dibilang cukup besar, terlebih-lebih di daerah. Aku masih ingat ketika tahun-tahun pertama penugasanku di Polda Kalimantan Barat, setiap kali aku makan siang bersama teman polwan lainnya di suatu restoran, hampir semua pengunjung restoran itu akan tersenyum ramah kepada kami. Ada ibu-ibu yang dengan gemasnya mendekati kami sambil menggeret anaknya yang masih kecil hanya untuk memperkenalkan kami dengan putrinya dan mengatakan ia ingin sekali anaknya menjadi Polisi Wanita. Kemanapun kami melangkah, hampir semua masyarakat menatap kami dengan decak kagum.

Tapi kalau mengenang kejadian di masa-masa di era reformasi bulan Mei 1998, rasanya aku tidak berani mengatakan profesi Polwan adalah profesi yang disenangi atau disegani saat itu. Begitu banyak kejadian buruk yang menimpa Polri. Gambar Rekan polisi pria yang dipukuli babak belur dan berdarah-darah tertampang di hampir semua televisi swasta. Beberapa pos polisi hangus terbakar. Ratusan kendaraan dinas juga menjadi amuk masa. Aku masih ingat ketika waktu itu harus pintar-pintar menyembunyikan pakaian seragamku di balik tas besarku setiap pulang dinas karena tidak mau menjadi korban razia para mahasiswa yang beringas.

Di masa itu, karena krisis ekonomi melanda seluruh negeri secara serentak, sebagai seorang anggota Polwan, akupun harus berusaha mengikat pinggang seketat mungkin. Harga-harga yang melonjak naik ketika itu, yang tidak serta merta diikuti kenaikan gaji Polri membuatku harus bermain sirkus dengan menu masakan di rumah. Aku masih ingat bagaimana aku harus memutar otak agar gaji yang sekitar Rp. 350 ribu bisa cukup hingga akhir bulan. Untungnya setelah masa pergantian presiden, pegawai negeri menerima kenaikan gaji yang cukup lumayan, sekitar lima puluh persen dari gaji semula.

Kini, delapan tahun setelah masa reformasi, aku masih tetap bekerja menjadi seorang anggota Polwan. Masih berusaha untuk bisa mempertahankan kepulan asap di dapur dengan gaji Polisi yang sesungguhnya "masih saja sama kecilnya", jika dibanding dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini.

Gaji yang diterima Polwan memang standard gaji pegawai negeri yang berlaku di negeri ini. Memang sebagai anggota Polri (dan juga anggota Abri lainnya) ada penambahan Uang lauk pauk Rp. 25 ribu per hari.

Jika kini ada yang menanyakan apakah menjadi Polwan itu enak atau tidak, maka aku akan menjawab, "Tergantung dilihat dari sudut pandang mana!" Kalau dari sudut pandang ekonomi, mungkin jawabannya hanya meringis sedikit plus senyum mesam-mesem.

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang kepuasan, mungkin aku bisa tersenyum lebih lebar. Aku puas menapaki karierku yang boleh dibilang sudah cukup lama.

Aku pernah mengalami penugasan sebagai anggota Polantas dan merasakan panasnya sengatan matahari pada pagi dan siang terik sambil mengatur lalu lintas. Merasakan betapa hausnya kerongkongan namun harus bertahan di pos jaga pada jam-jam sibuk.

Aku juga pernah merasakan pahit manisnya mengabdi sebagai Sekretaris orang nomer satu di Kepolisian daerah Papua selama 4 tahun.

Kehidupan dibalik penyamaranpun pernah aku jalankan ketika ditugaskan menjadi anggota Intelijen di bidang Pengawasan Orang Asing di Surabaya.
Aku bisa bersentuhan dengan dunia kriminalitas yang sesungguhnya justru ketika aku menjalani tugasku di bidang itu. Dari belajar minum kopi sebanyak-banyaknya agar tidak mengantuk waktu melakukan pengintaian sampai belajar berpakaian seperti pelayan bar ketika sedang mendekati target operasi.

Selain menjalani tugas di lapangan, Aku juga pernah menjalani tugas sebagai instruktur bahasa di Lembaga Bahasa Polri selama enam tahun. Lembaga ini yang mempersiapkan para anggota Polri yang akan dikirim sekolah, kursus atau bertugas di luar negeri.

Dengan statusku sebagai anggota Polwan pula aku akhirnya bisa menginjakkan kakiku di daratan Eropa dan bergabung bersama rekan lain di Kontingen Misi perdamaian dunia PBB Garuda XV-23. Selama hampir dua tahun Polri memberikan kesempatan bagiku untuk menorehkan pengabdian membantu rekan seprofesi, Polisi Bosnia di negara Bosnia i Herzegovina yang waktu itu baru saja dibentuk. Kesempatan selama dua tahun itu juga kugunakan untuk mengunjungi berbagai kota-kota besar di daratan Eropa.

Karena Polri pula aku memperoleh kesempatan untuk melaksanakan tugas belajar di Canberra Australia dan Bangkok Thailand.Untuk kota yang terakhir aku bahkan memperoleh kesempatan dua kali untuk materi pelatihan yang berbeda.

Dengan posisiku sebagai anggota Polrilah aku memperoleh kesempatan untuk mengenal dunia luar dan negara lain. Kalau mengharap dari kantong sendiri, mungkin sampai kiamatpun aku tidak akan bisa melihat negara lain.Jangankan negara lain, libur ke Balipun mungkin harus nabung bertahun-tahun dulu.

Kini, dengan status Polisiku pula aku diberi kesempatan untuk berkarya dan bekerja di sebuah Organisasi Internasional di Jakarta.

Menjadi Polwan memang bukan pilihan yang mudah. Jumlah anggota Polwan Indonesia saat ini hanya sekitar 4-5% dari jumlah seluruh anggota Polri yang kurang lebih 250 ribu orang. Artinya, kesalahan sekecil apapun, akan begitu mudah terangkat ke atas karena memang jumlah polwan yang cukup kecil.

Seorang Polwan harus bisa menjadi idola masyarakat. Dengan gaji Polwan yang "pas-pas" an seorang Polwan harus selalu tampil prima di mata masyarakat. Karena itulah anggota Polwan mendapat tunjangan perawatan tubuh dan wajah, sejumlah Rp. 50.000 per bulan.
Bisa dibayangkan perawatan apa yang bisa didapat dengan jumlah uang seperti itu. Harga lipstik saja sudah berapa sekarang?
Belum lagi biaya potong rambut di salon, sekali potong saja tidak kurang dari Rp. 20.000.

Dengan tunjangan yang minim itu, toh, seperti bisa dilihat hingga sekarang, Polwan tetap berusaha menjaga penampilan di mata masyarakat.

Padahal, sebagai anggota Polwan, aku dan kawan-kawanku juga harus mengemban beban beban psikologi karena citra Polri yang sudah sempat terpuruk di masa lalu.
Rasanya Polwan sudah bukan lagi profesi yang dibanggakan masyarakat. Senyum ramah masyarakat tidak semudah itu didapat seperti 17 tahun lalu.Kesan negatif, mata duitan, sok kuasa, korupsi yang sudah terlanjur melekat di tubuh Polri memang mau tidak mau harus pulan dirasakan anggota Polwan. Pilihan menjadi polwan memang memerlukan pemikiran secara khusus.

Tetapi dengan kondisi yang seperti itu, aku tetap merasa puas dan cukup bahagia dengan pekerjaanku sebagai anggota Polwan.
Aku juga bahagia jika membaca artikel-artikel yang menulis betapa sulitnya menyogok polantas wanita. Aku terharu jika melihat rekan sesama Polwan yang sedang mengatur lalu lintas di pagi dan siang bolong. Tugas yang pernah kujalani 17 tahun yang lalu.Akupun ikut bangga jika mendengar ada polwan yang berprestasi dan berhasil.

Kuakui memang, tidak semua Polwan sebaik yang diharapkan masyarakat. Tapi paling tidak, aku dan sekian banyak rekan polwan lain telah berusaha untuk menikmati perjalanan karier kami, seminim apapun gaji dan penghargaan yang kami terima karena memang, enak tidaknya suatu pekerjaan hanya bisa dirasakan oleh hati orang yang menjalankannya.

6 Comments:

  • At 6:51 PM, Blogger korintus said…

    halo mbak,

    wah, baru kali ini saya ketemu blognya polisi, polisi wanita pula.. salut mbak atas tulisannya yg jujur tentang profesi mbak.. oia saudara saya juga ada yg jadi polwan, di daerah sumedang. oke deh mbak, tetep semangat ya!

     
  • At 6:43 AM, Blogger murtisariutami said…

    Hmmm, seharusnya ibu polwan harus semangat bu! Saya sangat ingin menjadi polwan, ibu jangan patah semangat ya! Tami jambi calon letjen pol murti sari utami :)

     
  • At 7:07 PM, Blogger desman tarigan said…

    mejuah2 turang, by, http//www. tarigan.co

     
  • At 7:08 PM, Blogger desman tarigan said…

    mejuah2 turang, by, http//www. tarigan.co

     
  • At 7:18 AM, Blogger Dinarti Tarigan said…

    bagus sekali tulisan nya. Dulu saya punya cita cita jadi polwan juga, blm ke sampaian. hehee...Tapi saya mencintai profesi saya sekarang.

    sampai sekarang masih suka kagum tuh kalau lihat Polwan, seperti yang kakak tulis di atas. :)
    tetap semangat buat kita kak :)

     
  • At 5:36 AM, Blogger Maulia Indah said…

    keep spirit bu.. ! Saya sangat bangga punya polwan seperti ibu.sungguh luar biasa.. kisah ibu. dari yang senang dan pedihnya. tapi itu semua memperkuat cita2 saya untuk menjadi polwan yang baik dan bijak. mohon do'anya bu.

    terimakasih udah buat post yg sngt bermanfaat . semoga berkah. amin

     

Post a Comment

<< Home